Tujuan Akhlak, Urgensi Akhlak dan Karakteristik Akhlak dalam Islam

 



 TUJUAN AKHLAK, URGENSI AKHLAK DAN KARAKTERISTIK AKHLAH DALAM ISLAM

Disusun untuk Pemenuhan tugas mata kuliah: Akhlak dan Tasawuf

Dosen Pegampu: Bapak Djunaedi M.Pd.I

 

 

 

 

 

 


Disusun Oleh :

  1. Antoni
  2.  Daud Hidayatulloh
  3. Chanif najmuddin
  4.  Ilham Aminulloh

 

 

 

 

SEMESTER V

SEKOLAH TINGGI ILMU TARBIYAH (STIT) IBNU SINA

Jl. Raya Sukoraharjo, Kepanjen, Malang

2020



BAB II

PEMBAHASAN

 

A.    Pengertian akhlak

 Kata akhlak merupakan bentuk jama’ dari dari kata khuluq,artinya tingkah laku, perangai, dan tabiat. Sedangkan menurut istilah, akhlak adalah daya kekuatan jiwa yang mendorong perbuatan dengan mudah dan spontan tanpa di pikir dan direnungkan lagi.

Akhlak secara bahasa berasal dari khalaqa yang kata asalnya khuluqun, yang berarti perangai, tabiat, dan adat. Selain itu, juga dari kata khaqun yang berarti kejadian, buatan, dan ciptaan. Jadi, secara bahasa itu berarti perangai, adat, tabiat, atau sistem perilaku yang dibuat.

Akhlak merupakan bentuk jama’ dari khuluk, berasal dari bahasa arab yang berarti peringai, tingkah laku, atau tabiat. Kata akhlak diartikan sebagai tingkah laku, tetapi harus dilakukan secara berulang-ulang tidak cukup hanya sekali saja melakukan perbuatn, atau hanya sewaktu-waktu saja.

 Menurut Ibnu Maskawih, akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa yang menimbulkan macam-macam perbuatan dengan gampang dan mudah, tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan. [1]

Secara bahasa kata akhlak jamak dari khuluqin yang diartikan tabiat, kebiasaan, adab. Sedangkan secara istilah adalah sifat yang mantap di dalam diri yang membuat perbuatan yang dilakukannya baik atau buruk, bagus atau jelek.

 

B.     Tujuan akhlak dalam islam

Akhlak bertujuan untuk  menjadikan manusia sebagai makhluk yang lebih tinggi dan sempurna, dan membedakannya dari makhluk-makhluk yang lainnya. Menjadi suatu hal yang harus dimiliki oleh manusia agar lebih baik dalam berhubungan baik sesama manusia apalagi kepada Allah sebagai pencipta.

 

 

Sedangkan pelajaran akhlak atau ilmu akhlak bertujuan mengetahui perbedaan-perbedaan perangai manusia yang baik dan buruk, agar manusia dapat memegang dengan perangai-perangai yang baik dan menjauhkan diri dari perangai-perangai yang jahat, sehingga terciptalah tata tertib dalam pergaulan masyarakat.

Yang hendak dikendalikan oleh akhlak ialah tindakan lahir manusia, tetapi karena tindakan lahir itu tidak akan terjadi jika tidak didahului oleh gerak-gerik bathin, yaitu tindakan hati, maka tindakan bathin dan gerak-gerik hati pun termasuk lapangan yang diatur oleh akhlak manusia.

Jika setiap orang dapat menguasai tindakan bathinnya, maka dapatlah ia menjadi orang yang berakhlak baik. Tegasnya baik-buruk itu tergantung kepada tindakan hatinya. Dalam hadits Arba’in An Nawawi dituliskan bahwa Rasulullah SAW  bersabda yang artinya: “Dan ketahuilah bahwasannya, didalam tubuh itu ada segumpal daging yang apabila baik, maka baik pula amalnya, dan apabila buruk, maka buruk pula amalnya, dan ketahuilah bahwa ia adalah hati”.

Hadits ini dengan jelas menerangkan, bahwa hati adalah bagian terpenting dari tubuh manusia, sehingga apapun yang direncanakan oleh hati sejatinya akan sangat berpengaruh pada perbuatan yang akan dilakukan oleh pemiliknya. Dalam hal ini dapatlah diibaratkan bahwa jasad itu bagaikan pemerintahan dalam diri kita, sedangkan hati menjadi pusat pemerintahan.[2]

Seseorang yang mempunyai hati dan pendirian yang kuat, meskipun badannya tidak sekuat hatinya, lebih diharapkan akan memperoleh hasil pekerjaannya daripada seseorang yang berbadan kuat tetapi hatinya lemah.

 

C.    Urgensi akhlak dalam islam

Kalau kita bicara tentang akhlak jangan bicara tentang muslimin, bicaralah tentang Islam. Karena kalau muslimin banyak yang tidak mempraktekkan akhlak yang diajarkan oleh Islam. Jadi kalau bicara akhlak jangan bicara kaum muslimin dulu, tapi bicara Isam, bagaimana Islam memandang akhlak. Apa kedudukan akhlak dalam Islam. Kedudukan ahlak dalam islam  Ini terbagi beberapa point yang untuk menunjukkan bahwa Islam sangat memperhatikan akhlak.

 

 

1.      Bahwa akhlak adalah tujuan pertama diutusnya nabi kita Muhammad SAW

Hadist yang sering kita dengar yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad :

إِنَّمَا بُعِثْتُ ِلأُتَمِّمَ صَالِحَ اْلأَخْلاَقِ

“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang sempurna yaitu akhlak yang mulia”. (HR. Al-Bukhari dalam al-Adabul Mufrad no. 273)[3]

Kalau kita baca hadist ini dengan teliti Nabi Muhammad SAW menggunakan kata إِنَّمَا, yang di dalam bahasa Arab yang artinya “hanya”. Nabi Muhammad Salallahu a’laihi wa salam diutus hanya menyempurnakan akhlak yang mulia. Perhatikan baik-baik kata “menyempurnakan akhlak mulia”. Berarti sebelum datangnya Islam sudah ada akhlak tetapi belum sempurna. Berkata ‘Antarah bin Syaddad seorang penyair di zaman jahiliyah:

وَأَغُضُّ طَرْفِي مَا بَادَتْ لِي جَارَتِي حَتَّى يُوَارِيَ جَارَتِي مَأْوَاهَا   

 

“Dan akupun terus menundukkan pandanganku tatkala tampak istri tetanggaku sampai masuklah dia ke rumahnya”( Syair ini disebutkan oleh Syaikh Muhammad Amin As-Syinqithi dalam tafsirnya surat An-Nuur ayat 31)

Ini termasuk ghodul bashar (menjaga pandangan). Orang musyrikin di zaman jahiliyah saja sudah tahu godhul bashar adalah akhlak yang mulia. Islam datang menyempurnakan akhlak ini, lebih sempurna lagi di dalam agam kita. Bukan dengan istri tetangga saja, di jalan-jalan pun Islam mengajarkan untuk menundukkan pandangan.
Makanya di dalam Al Qur’an Alloh SWT berfirman,

قلْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ يَغُضُّوْا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوْا فُرُوْجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللهَ خَبِيْرٌ بِمَا يَصْنَعُوْنَ وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوْجَهُنَّ

 

“Katakanlah kepada para lelaki yang beriman, “Hendaknya mereka menahan sebagian pandangan mereka dan memelihara kemaluan mereka, yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang mereka perbuat”, dan katakanlah kepada para wanita yang beriman, “Hendaknya mereka menahan sebagian pandangan mereka dan memelihara kemaluan mereka…..”.(Q.S An Nuur: 30-31)

Menundukkan pandangan itu bukan memejamkan mata. Akan tetapi melihat yang perlu dilihat saja.

2.      Akhlak merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Iman dan Aqidah

 

Dalilnya adalah sabda Nabi Muhammad SAW dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud “Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling mulia akhlaknya”.

Lihat, Nabi Muhammad SAW mengaitkan aqidah dengan akhlak. Jadi kalau pengen tahu seseorang aqidahnya kuat lihat akhlaknya. Semakin aqidah seorang kuat maka seharusnya akhlaknya semakin baik. Dan kalau kita melihat ada orang akhlaknya jelek bisa jadi itu imbas dari aqidahnya yang belum kuat. Nabi Muhammad Salallahu A’laihi Wa Sallam mengajarkan kita untuk tidak meremehkan kebaikan sekecil apapun walaupun hanya menampakkan wajah berseri. Sebagaimana yang disebutkan dalam hadits:

(( عن أبي ذرّ رضي الله عنه قال : قالَ لي النبي صلى الله عليه و سلم : لاَ تَحْقِرَنَّ منَ المعْرُوفِ شَيْئاً ولوْ أنْ تَلْقَ أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلْقٍ)).

 

Dari Abi Dza R.A,berkata:“Rosululloh Salallahu A’laihi Wa Sallam bersabda: “Janganlah kamu meremehkan kebaikan sekecil apapun, sekalipun engkau bertemu saudaramu dengan wajah yang berseri” (HR. Shohih Muslim: 6637).

 

3.      Bahwa akhlak berkaitan dengan hampir seluruh ibadah

Makanya kalau kita perhatikan, dalil-dalil dalam Al Qur’an atau hadist Nabi Muhammad Salallahu A’laihi Wa Sallam, ketika berbicara tentang ibadah, entah itu sholat, puasa atau zakat selalu hampir sering dikaitkan dengan akhlak. Bagaimana ibadah itu menghasilkan akhlak yang mulia.

 

a.       Dalam Sholat

Ayat yang sering kita hafal:

اتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلَاةَ ۖ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ ۗ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُون

Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, Yaitu Al Quran dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan- perbuatan keji dan mungkar. dan Sesungguhnya mengingat Allah yaitu shalat adalah lebih besar keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain. dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS Al Ankabut ayat : 45).

Imam Al Hasan Al Basri mengatakan, “Barang siapa yang sholat, kemudian sholatnya tidak mencegah perbuatan yang mungkar, sungguh sholatnya itu akan membuat dia semakin jauh dari Alloh Azza Wa Jalla”. Solusinya mari kita perbaiki sholat kita. Supaya sholat kita ada efek di dalam kehidupan kita.

 

b.      Dalam Zakat

خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ ۖ إِنَّ صَلَاتَكَ سَكَنٌ لَهُمْ ۗ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu menjadi ketenteraman jiwa bagi mereka. dan Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui” (QS At-Taubah Ayat 103)

Maksudnya: zakat itu membersihkan mereka dari kekikiran dan cinta yang berlebih-lebihan kepada harta bendaMaksudnya: zakat itu menyuburkan sifat-sifat kebaikan dalam hati mereka dan memperkembangkan harta benda mereka. Makanya banyak orang yang zakat hartanya akan semakin diberkahi oleh Alloh Azza Wa Jalla.

 

c.       Dalam Puasa

Nabi Muhammad SAW mengaitkan puasa dengan akhlak.Nabi Muhammad SAW bersabda:

“Barang siapa yang tidak meninggalkan kata-kata dusta dan perbuatannya saat dia berpuasa, maka Alloh swt tidak butuh dengan puasanya”.

 

D.    Karakteristik akhlak dalam islam

Karakteristik Akhlak Islam. Allah SWT telah berkehendak bahwa akhlak dalam Islam dengan karakteristiknya berbeda dan unik (istimewa), yaitu dengan karaktersitik yang menjadikannya sesuai untuk setiap individu, kelas sosial, ras, lingkungan, masa dan segala kondisi. Beberapa karakteristik akhlak Islam dapat dikemukakan sebagai berikut:

 

 

 

1.      Moral yang argumentatif dan dapat dipahami

Moral Islam terlepas dari tabiat ritual absolut dogmatis yang dikenal oleh agama Yahudi dan yang diasumsikan oleh sebagian peneliti tentang moral sebagai suatu konsekuensi langsung dari bahasa dakwah; kepada moral dalam semua agama, namun mereka itu tidak mengetahui bahwa Islam justru kebalikan seratus delapanpuluh derajat dari itu.

Sesungguhnya Islam selalu bersandarkan pada penilaian yang logis dan alasan (argumentasi) yang dapat diterima oleh akal yang lurus dan naluri yang sehat, yaitu dengan menjelaskan maslahat (kebaikan) di balik apa yang diperintahkannya dan kerusakan dari terjadinya apa yang dilarangnya, kadangkala dengan menjelaskannya secara detail dan kadangkala dengan menjelaskannya secara global.

 

2.      Moral yang universal Moral dalam Islam

 adalah berkarakter manusiawi yang universal, artinya ia tidaklah membolehkan bagi suatu ras manusia apa yang ia haramkan bagi ras yang lainnya. Bangsa (atau ras) Arab dan 'Ajam (non Arab) adalah sama dalam moral, bahkan umat Islam dan umat-umat lainnya adalah sama di hadapan moral Islam yang universal. Riba adalah haram bagi seorang muslim dan non muslim (kafir), mencuri adalah haram terhadap harta seorang muslim dan harta non muslim, zina adalah haram bagi muslim dan non muslim dan pelanggaran adalah haram atas seorang muslim dan seorang non muslim.20 Dengan demikian moral Islam adalah bersih dari tendensi (kecenderungan) rasialisme kebangsaan yang mana akhlak Yahudi berkarakter dengannya dan dengan karakter tribalis (kesukuan) dan primitif pada umumnya.

 

3.      Moral yang sesuai dengan fitrah

 Moral Islam datang membawa apa yang sesuai dengan fitrah dan tabiat manusia serta menyempurnakannya, tidak dengan apa yang menghilangkan fitrah dan yang berbenturan dengannya, karena Allah SWT tidak pantas baginya untuk menciptakan manusia pada suatu tabiat fitrah kemudian Ia membebankan suatu ajaran kepadanya untuk menekan dan membunuh fitrahnya atau meniadakan pengaruh tabiat fitrah dan membekukannya.

Dari sinilah maka Islam mengakui eksistensi manusia seperti apa adanya yang telah diciptakan Allah dengan segala dorongan kejiwaannya, kecenderungan fitrahnya serta segala apa yang telah dibuat-Nya, maka Islam menghaluskan dan menjadikannya mulia dan membuat batasan hukum untuknya yang dapat memelihara kebaikan masyarakat dan individu itu sendiri. Oleh karena itu, syari'at Islam membolehkan untuk menikmati barang atau hal-hal (rezki) yang baik dan perhiasan, mengesahkan kepemilikan pribadi (individu). Namun syari'at Islam tidak lagi memandang kepada hasrat instink (naluri) jika barang-barang atau perkara itu merupakan sesuatu yang najis dan kotor, dan memasukannya kepada perbuatan syetan.

Islam menghimbau kepada kebersihan dan memakai perhiasan yang berupa pakaian serta menjadikannya termasuk pendahuluan (persyaratan) shalatnya. Al-Quran telah melarang orang-orang yang mengharamkan perhiasan dan barang-barang (rizki) yang baik itu. Jika agama Nashrani telah membangun sistem kependetaan yang arogan dengan doktrin-doktrin dogmatis yang berupa penyengsaraan tubuh dan pengusiran terhadap kecenderungan fitrah, maka Islam justru melarang untuk hidup membujang dengan menjadi biarawan atau biarawati. Bahkan ia menganjurkan untuk menikah dan ia memandang bahwa dunia merupakan kesenangan dan sebaik-baik kesenangannya adalah perempuan yang shalihah (baik).

Lebih dari itu, ia menganggap usaha mencari nafkah untuk menghidupi dan memenuhi kebutuhan keluarga merupakan suatu bentuk dari jihad di jalan Allah (jihad fi sabilillah). Akan tetapi Islam dalam segala apa yang diperbolehkannya -demi menjaga tabiat manusiawi- telah meletakkan aturan-aturan dan batasanbatasan yang bersikap netral (moderat) karena tidak mustahil sikap berlebihan dan ekstrim akan menjurus kepada perangai binatang yang tercela.

 

4.      Moral yang memperhatikan realitas

Diantara karakteristik akhlak Islam adalah bahwa ia merupakan moral realistis yang tidak mengeluarkan perintah dan larangannya kepada orangorang yang hidup di menara gading atau orang-orang yang terbang melayang di awang-awang idealisme, melainkan ia memerintahkan kepada manusia yang berjalan di muka bumi, yang memiliki dorongan dan nafsu, memiliki keinginan dan cita-cita, memiliki kepentingan dan kebutuhan, memiliki kecenderungan dan hasrat biologis terhadap kesenangan duniawi, sebagaimana mereka juga memiliki kerinduan jiwa kepada Allah yang mengangkat tinggi derajat mereka menuju kepada kerajaan langit.

Al-Quran tidak membebankan kepada manusia kewajiban untuk mencintai musuhmusuhnya dan memberkati orang-orang yang mengecamnya -sebagaimana yang diperintahkan Injil- karena hal ini merupakan suatu hal yang tidak dapat dimiliki jiwa manusia -kecuali orang yang abnormal (tidak normal). Akan tetapi al-Quran memerintahkan kepada orang-orang mukmin untuk berlaku adil terhadap musuh-musuh mereka, supaya rasa permusuhan dan kebencian terhadap musuh-musuh itu tidak mendorong mereka untuk melakukan pelanggaran terhadap mereka.

Al-Quran tidak mengatakan apa yang dikatakan oleh Injil: "Barang siapa yang menampar pipimu yang kanan, maka berikanlah kepadanya pipimu yang kiri, dan barang siapa yang mencuri bajumu, serahkanlah juga bajumu." Hal ini merupakan sesuatu yang tidak mampu dilakukan oleh manusia -sebagaimana fakta konkrit- dan juga tidak mampu dilakukannya dalam kondisi apapun.

Al-Quran mengikuti prinsip keadilan, kemudian ia membuka pintu bagi orang-orang yang mendambakan kemuliaan dan kesempurnaan untuk memaafkan dan mengampuni. Sesuatu yang diharamkan Islam adalah melampaui batas.

Dengan demikian al-Quran menyelaraskan antara keadilan Taurat dan toleransi Injil. Dan inilah suatu realisme ideal yang tawazun (serasi/imbang). Dan diantara realisme akhlak Islam adalah ia menentukan kadar darurat, memperhatikan uzur (halangan) dan kondisi yang meringankan, dan ia tidak bersikap kaku dengan kekolotan kaum idealis ekstrim yang tidak menerima pengecualian apapun. Oleh karena itu setelah al-Quran menyebutkan beberapa makanan yang diharamkan ia mengomentarinya.

 

 

5.      Moral yang positif Di antara karakteristik akhlak Islam

adalah bahwa ia merupakan moral positif, yaitu ia tidak merelakan orang yang telah berhias dengan akhlak Islam untuk berjalan mengikuti trend sosial, berjalan mengikuti arus, atau bersikap lemah dan menyerah dalam menghadapi peristiwa yang mengendalikan hidupnya seperti bulu beterbangan tertiup angin.

 Moral Islam menganjurkan untuk menggalang kekuatan, perjuangan dan meneruskan amal usaha dengan penuh keyakinan dan cita-cita, melawan sikap ketidakberdayaan dan pesimisme (keputusasaan), bersikap mati tidak berkutik, kemalasan serta segala bentuk penyebab kelemahan. Dengan demikian, moral Islam menolak sikap pasif dan apatis dalam menghadapi kerusakan sosial dan politik, dan menghadapi dekadensi atau degradasi moral dan agama. Bahkan Islam memerintahkan kepada seorang muslim untuk merubah suatu kemungkinan dengan tangannya, jika ia tidak mampu maka dengan lisannya, jika tidak mampu maka dengan hatinya, dan sikap terakhir itu merupakan keimanan yang paling lemah.

Pengubahan dengan hati ini bukan merupakan suatu sikap pasif sebagaimana yang diperkirakan orang, akan tetapi ia merupakan suatu pengambilan sikap dan pemihakan jiwa dan perasaan hati untuk menentang kerusakan yang tetap harus termanifestasikan pada suatu hari nanti dalam suatu aksi nyata.

 

6.      Moral yang komprehensif

Jika sebagian orang menyangka bahwa moral dalam agama berkisar pada pelaksanaan ibadah-ibadah ritual seremonial dan sebagainya, jika pun ini benar mengenai moral suatu agama tertentu, maka hal itu tidaklah benar untuk dipredikatkan kepada etika moral Islam. Etika Islam tidak membiarkan kegiatan manusia dalam kedua aspeknya; individual dan sosial, pemikiran, adab susila dan rohani. Bahkan Islam telah menggambarkan untuknya sebuah konsep moral sesuai dengan kaidah tertentu, menggariskan hubungan manusia dengan dirinya sendiri, dengan masyarakatnya, bahkan hubungannya dengan alam.

Demikianlah Islam menggabungkan apa yang didikhotomikan manusia atas nama agama dan filsafat kemudian setelah itu Islam memiliki nilai lebih dari paradigma agama-agama dan berbagai filsafat. Diantara moral Islam yang berhubungan dengan diri pribadi (individu) seperti tubuh yang memiliki kebutuhan dan keperluannya yang mendesak; akal yang memiliki kemampuan dan wawasan cakrawalanya; serta jiwa yang memiliki perasaan, dorongan dan kerinduannya.

Interaksi sosial, di antara moral Islam yang berkaitan dengan individu sebagai anggota masyarakat dalam adab susila dan sopan santunnya; interaksi bisnis, interaksi dengan makhluk lain yang tidak berakal; sampai kepada interaksi dengan alam dan kehidupan.Bahkan sebelum itu semua adalah moral Islam yang berkaitan dengan hak Allah Yang Maha Agung, Yang Maha Suci lagi Maha Tinggi, yang mana tidak ada yang berhak disembah dan dimintai pertolongan selainNya. Maka merupakan kebenaran yang tidak diragukan lagi bahwa Islam merupakan sebuah moral yang komprehensif dan seimbang; karena ia adalah akhlak Islam.[4]




[1] http://santoson111.blogspot.com/2015/02/pengertiantujuandan-manfaat-akhlak.html?m=1 17/09/2020

 

[2] https://www.gurupendidikan.co.id/pengertian-akhlak/17/09/2020

[3] https://sahabatyamima.id/2016/08/urgensi-ahlak-dalam-islam/17/09/2020

[4] https://www.coursehero.com/file/49126046/makalah-karakteristik-akhlak-islamdocx/18/09/2020

Komentar